Dua Tahun Sejak Rilis: Lini M1 Semakin Lengkap! Waktunya Beli? Jangan dulu.

Sekarang lini M1 ada pada Mac Mini (paling terjangkau harganya), Macbook Air, Macbook Pro, iMac (Redesign/desain baru).

Performa
Jadi karena arsitektur lini M1 adalah ARM, maka benchmark dengan software benchmark umumnya tidak menghasilkan tolak ukur yg akurat.
M1 memiliki keunggulan benchmark prosesor individu dibandingkan sematan prosesor intel sebelumnya.




Sumber (Tabel): WWW.CPU-MONKEY.COM

 
Fitur yang paling disorot adalah: ukuran M1 5nm, frekuensi RAM 4266Hz, PCIe 4.0, L2 cache 16 MB, memiliki CPU 8 core (4 utama, 4 efisien), GPU 8 core dan neural engine 16 core, semua disusun dalam satu kesatuan System of Chip. Bisa dibilang produk ini cukup premium. 
 
Ah, teori. Mana praktiknya?

Di lapangan M1 bisa menampilkan 1 layar 6K 60 hertz (atau multilayar), laptop yang mumpuni, lebih hening, dan lebih hemat daya untuk pemakaian harian. Dapat mengedit video 4K tanpa terkendala. Dapat menjalankan emulator Windows dengan lebih baik untuk bermain game secara native Mac. Inti M1 sangat cepat, ringan, dan mumpuni. Semua dalam produk berdesain minimalis anggun.

Keterbatasan M1 adalah dukungan RAM hanya di 8 GB dan 16 GB. Arsitektur ARM masih tergolong baru, oleh karenanya belum optimal.  Dan tentunya, disain Macbook Air dan Macbook Pro yang tipis masih terkendala dalam membuang panas. Akibatnya performance throttled atau tercekik. Singkatnya, apabila panas, laptop akan memotong performa supaya kembali dingin. Tentu saja disain Mac Mini dan iMac juga mengalami meski tidak separah laptop. Keterbatasan lainnya adalah dukungan port hanya USB-C Thunderbolt 3.

Kekurangannya masih banyak. Arsitektur ARM belum tentu diadopsi oleh para developer, oleh karena itu meskipun mampu menjalankan game/app lama melalui emulator, pemakaian tidak terhindar dari berbagai bugs. Bahkan hingga kini Final Cut Pro belum dioptimalkan oleh Apple sendiri. Tampaknya ini disengaja; karena tugas marketing M1 adalah untuk mengantar produk baru dengan penerimaan yang tinggi, tanpa menoreh tingkat adopsi tinggi. Bagi para gamers setialah di PC/konsol.

Sayangnya, hype M1 ini lumayan mengirim sinyal yang hipster dan gimik. Banyak influencer teknologi membuat review yang bersifat hype atau mendengung-dengungkan gimik yang ujungnya tidak akurat, seperti seorang video editor yang berani menukar Macbook Pro 15” top of the line dengan seri M1. Benarkah sehebat itu? 
 
Setelah diujicobakan oleh reviewer lainnya, diketahui bahwa M1 belum memenuhi kebutuhan pekerja industri dan kaum profesional. Dan jangan lupa, arsitek ARM sendiri masih dalam proses transisi. Software belum optimal. Akhirnya disimpulkan untuk para pekerja industri sebaiknya jangan teriming-iming dan tunggu proses transisinya 1-2 tahun. (Cek video review oleh K2G ini.)
 
Gambar: System Of Chip M1. Sumber: Apple.com


Kemudian bagaimana?
 
M1 adalah lompatan besar bagi Apple sendiri karena merombak ulang sistem arsitekturnya, memroduksi prosesornya sendiri, melepaskan diri dari Intel dan meningkatkan performa MacOS. Semua pencapaian ini masih butuh waktu transisi karena esensi yang ditawarkan M1 bukan hal baru; hanya meneruskan produk-produknya sebelumnya: mudah dan ga ribet. Pencapaian Apple ini bukan terobosan bagi pasar.

Mengingat tahun-tahun Apple pernah “melupakan” lini Mac, Apple harus memanfaatkan peluang untuk membuktikan dirinya seberapa serius arsitektur barunya diperlombakan di level Nvidia, Intel, dan AMD. Karena dalam jangka panjang, jika tidak ada inovasi berkelanjutan, dukungan dari industri untuk arsitek ARM, adopsi ARM untuk pasar gaming akan memakan biaya terlalu mahal dan tidak akan mulus.

Simpulannya, komputer M1 cocok untuk upgrade kebutuhan harian dan produktivitas harian, namun tidak cocok untuk kebutuhan profesi dan industri. (TJ)

Comments

Popular Posts