Pemberi Harapan Palsu itu selalu dimintai Harapan




Hari ini di halaman muka surat harian PR ada artikel di atas. Seorang keturunan Indonesia asal Banyumas mencalonkan diri sebagai presiden Suriname.

Berita ini mengingatkanku akan kisah pencalonan seorang Barack Obama sebagai presiden Amerika Serikat.

Namun sebelum lanjut, silakan di baca dulu artikel di atas. Semoga kualitas gambarnya masih cukup baik sesudah diunggah ke blog.

..


..


...


Sudah dibaca nih? beneran? Biar kita sambung ya.

Nah, komentar pertama saya adalah: "what's with us, people? Bangga dengan orang asing yang sudah 80 tahun lebih tidak dikenali, tidak diketahui nasibnya, bahkan tidak pernah terpikirkan sebelumnya, lalu muncul dalam suatu pemberitaan internasional atas prestasinya dan orang(-orang) mulai mengklaim sesuatu dari situasi."

I mean, ya cukup begini sajalah meresponinya, "Well good luck, sir, wish you good luck for your journey ahead, may the odds be ever in your favor. Bless you." 

Cerita ini jarang kita jumpai. Namun mengapa terkejut dan bereaksi berlebihan?

Menurut saya, menilai latar belakang orang tuanya yang adalah "pekerja paksa" dan ĸιnι ѕang anak survive dan bahkan mengangkat nasibnya, is already a good thing to talk about, sudah sebuah cerita baik, inspiratif, dan kalau mau didramatiskan ya menggugah. 

Perjalanan 80 tahun yang tidak kasat mata itu seringkali tidak digubris bila melihat kondisi pria bernama Sapoen yang menjabar sebagai menteri pendidikan di pemerintahan Suriname. (It's a good story material for novel , i think) Kita suka baca bagian enaknya aja. We tend to pick stories.

80 tahun dilalui pastinya tidak mudah bagi almarhum Sapoen. Dan pastinya perjalanannya tidak ada hubungannya dengan keberadaan warga di Banyumas. Ya. Memang tidak ada. At least, begitulah menurut saya sampai ada pemberitaan selanjutnya. 

Saya pikir paguyuban Banyumas - Suriname pasti berusaha menjembatani suatu hubungan yang punya tujuan baik, mengingat memang tidak sedikit jumlah pekerja yang diboyong oleh Hindia Belanda ke sana. Setidaknya ada 3000 lebih yang berasal dari Banyumas dan Purbalingga saja. Barangkali koloni Belanda memberikan kompensasi atau pemberian ganti rugi kepada keluarga yang ditinggalkan. Sejauh ini saya tidak tahu.

Namun bagaimana masyarakat menanggapi kondisi ini (contoh lain: Obama kecil selaku warga Menteng yang kemudian mendadak terkenal karena mencalonkan dirinya sebagai Presiden Amerika) membuat saya berpikir  kedekatan/kesamaan historis orang asing dengan kita (secara kolektif) dapat mentransformasi ketidakacuhan menjadi kelekatan yang tiba-tiba namun seolah mendalam dengan figur terkait. Bila pintar, siapapun bisa memanfaatkan kondisi ini untuk pencitraan. Termasuk media atau partai.

Kelekatan historis terbukti lebih kuat daripada nalar yang sehat. Sosok dengan figur historis akan lebih awet diterima meskipun perjalanan politik dan personalnya sosok tersebut seringkali mengecewakan. 

Katanya hal ini disebabkan karena masyarakat kita adalah pemaaf, pemaklum dan rendah hati.

Tapi kalau saya bilang tidaklah demikian masyarakat ini.

Selumbar di depan mata tidak terlihat. Semut di seberang lautan terlihat.

Kiasan ini menggambarkan kondisi masyarakat yang tendensius menerima orang asing apa adanya dan juga menyangkal tanpa sadar bias pandang yang sudah terjadi, mungkin dalam bentuk gagal sadar atau gagal peduli dengan diri sendiri atau orang di sekeliling. 

Menerima orang asing itu seperti menerima harapan yang baru, lembaran yang bersih, kain yang bagus, benang yang halus. 

Mengakui harapan yang hancur itu seperti lembaran kotor, kain yang kusam dan bau, serta benang yang putus. 

Bukan berarti orang asing itu selalu ada tipuan dan intrik. Bukan. Hanya saja, kita harus selalu menguji penglihatan kita dan bersikap sepantasnya menemui orang yang bersinggungan secara historis, bila tidak kita mengizinkan kondisi menipu diri kita. 

Singgungan historis itu sendiri punya keterbatasan dalam membangun penilaian yang bijak, yang cenderung memaksa kita memelihara penerimaan kita yang sempit, sejauh apa yang bisa kita terima, sejauh pengalamannya enak, dan sejauh kita merasa nyaman. 



Sudah lama masyarakat kita menjadi korban para petinggi negara yang menjanjikan harapan namun merobek-robeknya tanpa sisa. 

Seolah-olah manusia menjadi mati jiwanya. Tekun berdoa namun takut berharap. Rajin mengucap syukur namun takut bermimpi. Dan di awal pemberitaan sosok asing yang masih belum dikenal mendalam dan berimbang, terasa manis untuk berharap dan bermimpi, seperti pekerja menemukan gundukan kilauan emas dari jauh, lalu ketika didekati hanyalah pantulan sinar siang hari.

Saya yakin ada orang-orang yang masih teguh memegang janjinya di jajaran petinggi, tapi rasio pemberi harapan palsu (pehape) dengan pemberi harapan nyata (pehata) is overwhelming. 

Too much to bear.

(Bersambung... Mau mandi)

Popular Posts