Opini: Sang 'Pemandu Bakat-jadi-Pelatih'
Indra Sjafri baru saja dipecat sebagai pelatih PSSI U-19 karena dinilai gagal mencapai target yaitu lolos ke Piala Dunia U-20 di Selandia Baru nanti. Artikel tentang ini ditulis oleh Football Fandom. "Terima Kasih Indra Sjafri"
Opini saya terkait hal ini ada beberapa.
Selamat untuk bung Indra.
Sejauh ini perkembangan fungsi 'pemandu bakat' beliau maju hingga titik yang patut diapresiasi dan jadi satu standar baru yang berhasil dan pantas dicontoh pelaku olah raga. Namun, sebagai pelatih, jam terbang dan kinerja kepelatihan beliau belum bisa (cukup) dijadikan tolak ukur alias terlalu dini. Kemungkinannya, 1) pssi kekurangan referensi (karena kurang blusukan barangkali), atau 2) pencitraan media (lagi-lagi) terlalu jauh di atas portofolio. Sayang sekali, karena motivasi besar sekalipun tidak bisa jadi landasan kokoh untuk sesumbar target Piala Dunia U-20.
Media berperan besar untuk menggerakkan ekspektasi pencinta sepak bola Indonesia. Terang saja, persiapan tim menjelang kualifikasi Asia dieksploitasi oleh media, apalagi kalau bukan untuk meningkatkan oplah. Berat rasanya untuk melihat fantasi-fantasi liar oleh media. Bukan. Saya bukannya tidak setuju melihat atau mendukung kemajuan PSSI muda, Tim Garuda Jaya. Tapi saya lebih realis melihat kondisinya. Kepelatihan Bung Indra yang masih muda. Dan persiapan tim GJ yang barangkali tidak fokus, karena peliputan media, sparring ke Spanyol, dan berbagai iklan. Belum menyoal politik manajemen PSSI.
Alangkah baiknya apabila tim pelatih tidak turut sengaja 'menjual' target dan memancing euforia yang berlebihan. Ya sepak bola punya sisi komoditas juga. Kalau levelnya sudah di atas, sepak bola kita pun akan lebih mudah dinikmati sebagai komoditas. Bukannya beli kucing dalam karung. Yang pasti, banyak 'titipan' PSSI ke perhelatan kemarin. Indra Sjafri pasti tidak akan mudah mengembannya.
Dan ini terkait dengan karir sang pelatih sendiri.
Karir beliau masih terbuka untuk terus meniti ke depan. Saya melihat karir kepelatihan beliau menjadi 'objek' agenda-agenda pihak-pihak besar. Portofolio Indra Sjafri luar biasa: konversi pemandu bakat menjadi pelatih. Dua fungsi yang sangat berbeda. Namun kepelatihan beliau belum cukup lama untuk mengecap beban yang terlampau berat. Beban yang diproyeksikan oleh induk semang, rekan senior, rekan sejawat, bahkan pencinta sepak bola.
Barangkali ke depannya prosesi seperti ini juga supaya tidak mudah terjadi agar potensi besar 'pemandu bakat' beralih jadi 'pelatih', ala bung Indra ini, tidak langsung tergelincir dan sempat mengasah tahun-tahun kepelatihannya secara progresif dan komparatif, sebelum malah dieksploitasi sebelum waktunya.
Maju terus sepak bola Indonesia.

