Menyemat stres di catatan saya
Saya tidak cukup optimis atas perihal stres.
Karena saya
pikir-pikir lagi saya masih belum berhasil mendulang stress untuk keuntungan
saya sendiri dan rela. Pada awalnya adalah Tujuan.
Tujuan?
Frustasi adalah perasaan negatif, seperti jengkel, sebal, tidak
puas, kecewa, atas kegagalan mencapai suatu tujuan. Ya tujuan.
Sumber frustasi dapat dari dalam, seperti tidak pede, grogi, cemas, konflik batin atas suatu kondisi, misalnya situasi sosial.
Sumber luar bisa disebabkan apa saja. Tapi c’mon, hal-hal tipikal yang bisa adalah macet yang parah, kantong kere, status jomblo yang akut, tuntutan orang (yang di-) tua (-kan), hubungan yang buruk dengan pasangan, anak-anak berulah, bos/kantor yang rese, ancaman PHK, inflasi, biaya kesehatan yang meroket, anggota keluarga yang sakit kritis, mandul. Dan banyak lagi.
Sumber frustasi dapat dari dalam, seperti tidak pede, grogi, cemas, konflik batin atas suatu kondisi, misalnya situasi sosial.
Sumber luar bisa disebabkan apa saja. Tapi c’mon, hal-hal tipikal yang bisa adalah macet yang parah, kantong kere, status jomblo yang akut, tuntutan orang (yang di-) tua (-kan), hubungan yang buruk dengan pasangan, anak-anak berulah, bos/kantor yang rese, ancaman PHK, inflasi, biaya kesehatan yang meroket, anggota keluarga yang sakit kritis, mandul. Dan banyak lagi.
Stres itu dikatakan sebagai semua hal yang berusaha untuk menentang
keberadaan suatu tujuan. Baik fisik dan mental. Sejumlah pakar dan artikel
tipikal menyebutkan stres itu baik dalam kadar yang cukup. Misalnya deadline
suatu pekerjaan. Suatu pekerjaan akan terasa semakin mencekam seiring mendekati
deadline-nya. Tapi dalam kadar berlebihan,,, .
Ada juga istilah stressor.
Stressor adalah stimulus penyebab perasaan stres. Ya perasaan yang muncul
ketika seorang dalam kondisi tertekan. Contoh stressor ya apa saja yang ada di
lingkungan interaksi seorang, seperti suara berisik motor dengan knalpot butut,
peot, jeleg, kebut-kebutan, bertemu orang yang menyebalkan, bahkan kencan
pertama.
Anak-anak stres karena bobot pekerjaan rumah, tuntutan orang tua,
para bully, dan lain sebagainya. Orang dewasa stres karena, well, pretty much the same. Para ayah/ibu stres mengurus rumah tangganya,
dashyatnya ketidakstabilan ekonomi, politik rumah tangga, politik ibu-ibu
pkk/arisan, kantor, komunitas dan lain sebagainya.
Setiap orang menghadapi stress dengan respon yang berbeda-beda. Beda
objek, beda stresor dan beda respon. Setiap stressor bahkan tidak berkaitan
satu sama lain. Tapi biasanya stressor cukup kompak untuk bersama-sama menghantam
seseorang bertubi-tubi sampai depresi. Jadi, cermatilah caramu meresponi
stressor atau stres itu sendiri. Bersikap baiklah agar tidak menjadi penyebab
stres bagi orang lain. Seperti penutup botol soda yang sudah dikocok, begitu
meletus, semua tekanan dari dalam menyembur keluar.
Nah bedanya apa dengan depresi? Depresi adalah stres dalam kadar
yang sudah mengganggu kesehatan seseorang. Dampaknya ke perilaku, perasaan dan
pikiran seorang. Perasaannya akan negatif (seperti sedih) terhadap dirinya.
Gambar dirinya menjadi terganggu. Dan kemungkinan penderita depresi memilih
untuk mengakhiri hidup. Dan depresi ini termasuk penyakit kronis dan tidak
mudah dihilangkan.
Semakin berat tekanan, semakin besar kemungkinan seorang terkena
stres. Tanpa pemahaman yang baik, kemungkinan depresi susah diperkecil. Oleh
karena itu, perlu untuk seorang memahami dirinya lebih baik lagi untuk membantu
membuat keputusan yang terbaik agar menghindari tekanan stres yang berlebihan. Stres
yang cukup itu baik. Tapi perlu disadari banyak kondisi di luar diri kita bukan
dalam kendali kita. Lebih bermanfaat seorang menyadari kekuatan dan
kelemahannya dan mengembangkan kepribadiannya daripada berusaha mengendalikan
faktor eksternal yang terlampau banyak.
Referensi

